Postingan

Saya dan Seorang Penari

Dalam sebuah kelas, seorang guru mengajak murid-muridnya berdiskusi, dia bertanya kepada muridnya: Kalian siapa ?, serentak murid-muridnya menjawab sesuai dengan namanya masing-masing. Gurunya kembali bertanya: Bukankah itu hanya sebuah nama "Namaku", kata "ku" setelah namamu itu siapa ?. Murid-muridnya, kembali menjawab, kali ini mereka menjawabnya dengan jawaban yang berbeda-beda. Ada yang menjawab aku adalah seluruh badan, aku adalah jiwa, aku adalah pikiran, aku adalah hari, dan lain-lain. Gurunya kembali bertanya dengan pertanyaan yang semakin membingungkan, "itu semua kan hanyalah kepunyaan (tubuhku, jiwaku, pikiranku, hatiku, dan lain-lain), Akunya itu yang mana ?, yang memiliki semua yang kamu sebutkan tadi. Suasana kelaspun menjadi hening, seluruh muridnya masih kebingungan memikirkan dirinya sendiri. Sepulang dari tempat belajarnya itu, salah seorang murid mencoba menghibur dan menenangkan pikirannya dengan mengunjungi beberapa tempat seperti pantai, ...

Perenungan

 Terkadang apa yang diharapkan tidak selaras dengan apa yang telah direncanakan oleh sang penguasa takdir. Kebenaran darinya selalu saja mempertentangkan segala perkara yang telah kualami, membuat kepalaku dipenuhi oleh sabda-sabda liar. Seolah-olah kebahagiaan telah mati suri dan jasadnya entah berada dimana, dan kesedihan selalu saja menemukan zona nyamannya. Mungkin saja ia menginginkan lebih banyak kerendahan hati dan kesediaan diri untuk menurunkan keegoisan bahwa hidup tidak selamanya berjalan mulus sesuai apa yang diharapkan.  Seorang nahkoda tidak akan mampu mengubah arah mata angin, dia hanya bisa mengendalikan kapalnya untuk tetap aman dan berjalan di jalur yang semestinya dia lewati. Yah itu benar, Tuhan memiliki selera humornya sendiri yang dapat membolak-balikkan tatanan hidup. Kini, yang ku miliki hanya ribuan ingatan yang tersusun rapi dalam perpustakaan pikiranku yang sewaktu-waktu dapat saya gunakan untuk meyakinkan diri bahwa untuk memperoleh kearifan tentuny...

Keraguan

 Apakah karena kurawat keraguan, maka saya tidak bisa percaya apapun? Percaya hanyalah tidak adanya ragu. Jika keraguan hilang, maka rasa percaya akan muncul. Lalu kucoba mengamati saat menekan-nekan suatu keyakinan dalam diriku, sebenarnya hatiku tengah dilanda keraguan. keraguan bukan berarti penolakan, mungkin seperti "saya tidak tahu", tapi "saya siap untuk tahu". Keraguan ini membuatku mencari jawaban dari banyak pintu, dan semua pintu terasa seperti menyodorkan jawaban-jawaban yang saling melengkapi, meski caranya berbeda-beda, kadang lembut, kadang kejam, kadang penuh teka-teki, kadang jelas, tapi yang jelas setiap pintu bersepakat mengantarkan jawaban atas setiap pertanyaan. Dan keraguan ini yang membawaku mengembara menjelajahi setiap pintu untuk mencari jalanku sendiri. Nasehat orang bijaksana: "Kalau jalan sudah tertata, mungkin saja orang lain sudah menyiapkannya. Maka kamu jangan lewati jalan itu, karena itu bukan jalanmu. Carilah jalan yang masih ...

Kehilangan Arah

 Secangkir kopi yang ku teguk dengan penuh nafsu birahi hingga tidak tersisa setetespun. Kopi yang ku nikmati di warung kopi saat kantong tak punya apa-apa lagi selain harapan. Merenungi hidup yang selalu ku puja-puja selama ini, lagi-lagi menyesatkanku di tengah perjalanan. Lelaki yang kebingungan tak mau apa-apa lagi selain masa lalunya yang utuh. saya tidak mendapatkan apapun selain tempat untuk mengenyangkan perut dan bertahan dari kesengsaraan, diriku membatin dan batinku menjadi liar. saya benar-benar larut dalam kebingungan yang menenggelamkanku dalam hidup ini. Ku coba mempertanyakan hidup, lalu apa gunanya saya hidup hingga detik ini, jika pada akhirnya saya tidak tahu satupun dari diriku sendiri. Dididik oleh seorang laki-laki agar kelak bisa menimbang-nimbang tentang dunia yang dipenuhi oleh topeng kepalsuan, dan dirawat oleh seorang perempuan dengan penuh kesabaran agar kelak bisa menjadi orang yang bermanfaat bagi sesama. Tapi hingga saat ini, berguna untuk diri sendir...