Postingan

Alebbireng

Banggalah dengan identitas kebudayaan yang kita miliki, apapun suku dan budayanya. Dan juga bukalah mata, hati, dan pikiran terhadap perbedaan-perbedaan dan keragaman yang disajikan dalam ruang publik yang semakin terbuka lebar beserta kekuatan daya larut interaksinya. Pemahaman akan kebudayaan kita yang terpatri sebagai jati diri itu, pada akhirnya akan menjadi jati diri yang bermartabat atau dalam bahasa Bugis kita kenal dengan istilah "Alebbireng" sebagai fitrah manusia yang sesungguhnya. Alebbireng tidak akan luntur meski dibenamkan dalam lumpur. Ia akan tetap cemerlang dengan pijar cahaya yang menerangi sekelilingnya dengan kesederhanaan dan kemurahan hati. Adat-istiadat bukan hanya tentang kebaikan hati, melainkan tata cara agar semuanya menjadi lebih baik.

Transformasi Budaya di Pedesaan

Gambar
“Warisan kita berbicara tentang akar bangsa kita.” “Simpan warisan itu dari kerusakan, karena itu adalah aset paling berharga.” “Banggalah dengan warisan kebudayaan yang kita miliki, karena ada banyak hal yang ditawarkan.” Transformasi budaya adalah proses perubahan budaya. Transformasi budaya saat ini dipercepat dengan adanya proses globalisasi, yang mana globalisasi merupakan suatu gejala perkembangan kebudayaan internasional yang memasuki dan mengikutsertakan masyarakat diberbagai belahan bumi ini dengan kebudayaan dunia tersebut. Sayangnya, kebudayaan internasional itu sangat didominasi oleh kebudayaan-kebudayaan negara-negara maju saat ini yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi atau yang kita kenal dengan istilah IPTEK, terlebih khusus negara-negara industri. Hal ini dikarenakan negara-negara tersebut menguasai informasi di berbagai belahan dunia karena dibantu oleh penguasaan teknologi informasi, teknologi komunikasi, dan teknologi transportasi. Sifat kebudayaan global ini...

Ibu

Gambar
  Ibu... Kau adalah pohon bagi jiwaku. tempatku brsandar kala lelah dan merindu Rindangmu menyejukkan hati Menghangatkan jiwa dikala panas akan dosa. Ibu... Meski jasadmu kini telah luntur Tapi dirimu tetap terlukis indah dalam jiwaku Ibu.. Kau adalah segalanya untukku Tapi apa yg telah ku beri? Hanya kebodohan dan kekonyolan Yang tidak sebanding dgn kasih sayangmu Ibu.. Membanggakan mu dengan kata-kata Adalah hal yg mudah Tapi entah kenapa aku Terhentak saat ku coba mengadu padamu.... Aku bertanya...? "Mengapa sulit bagiku membuatmu bahagia dalam ketiadaan mu" Ibu.. Mungkin hatimu terluka Krn perbuatanku Tapi.. Ku beranikan diri untuk menuliskan sajak tentangmu Dan ku selipkannya doa-doa Meski  tangan berlumuran dosa. Harapku semoga bukan penghalang bagimu untuk bertemu sang illahi Robbi... Al Fatihah 🙏

Mawar

 Kembang mawar.  Untuk berkembang, manusia seyogyanya berguru keberagaman demi mengembangkan diri dan lingkungannya. Tanpa keterbukaan untuk menerima perbedaan dan ragam macam warna, sebuah bangsa tidak akan harum namanya, tidak akan cemerlang peradabannya. Setangkai mawar bertabur duri. Menandai rintangan serta hadangan berguru kemajemukan. Berbeda butuh tekad dan nekad. Butuh keyakinan serta keberanian. Kuat hati disertai keteguhan, ketangguhan, juga keteguhan. Agar sampai ke tempat yang dituju dengan selamat. Sampai pada yang diupayakan. Keberagaman adalah dasar kejamaahan. Perbedaan adalah energi perkembangan potensi diri. Dalam keberagaman tersirat wajah Tuhan. Itulah mengapa mawar menjadi lambang cinta. Sang Maha Cinta mencipta jalma manungso warna-warni. Mawar.

Jejak Pustaka Tan Malaka (Madilog)

  Ketika kita bicara tentang Republik Indonesia, ada satu nama yang tidak layak untuk dilupakan. Melalui bukunya pada tahun 1925, dia menyampaikan gagasan terkait sebuah Republik yang berdiri di atas tanah airnya. Mendengar peranan pentingnya terhadap Indonesia, aneh apabila namanya seolah disembunyikan dalam timbunan sejarah. Tan Malaka lahir di tanah minangkabau sebagai bayi laki-laki yang bernama Ibrahim, namun nama Tan Malaka itu dia dapatkan dari prosesi adat Minangkabau, yang akhirnya nama Tan Malaka lebih dikenal dan bergaung dalam benak khalayak yang mengagumi perjuangannya. Bersama Sarekat Islam dia menjadi penggerak gerakan rakyat dalam memperjuangkan keadilan dan melawan penindasan dari kolonialisme Belanda. Bagi seseorang yang hidup dengan pikiran yang mesti disebarkan, baik dengan pena, mulut, maupun dengan tindakan, tentunya membutuhkan pustaka yang cukup. Sama halnya dengan seorang tukang batu tidak akan membuat sebuah rumah kalo alatnya seperti semen, batu bata, pas...

Padamnya Api Literasi

Coba kita lihat mereka yang sibuk merancang bangunan tinggi menjulang langit. Seakan lupa memugar pikiran dan spiritual yang mulai amburaduk. Padahal isi pikiran adalah awal dari segala peradaban. Peradaan yang maju diasup oleh bacaan bergizi, disuguhkan kultur massa lestarikan tradisi literasi, didukung kebijakan penguasa tumbuhkan budaya baca, meramu peradaban buku dan peradaban umat manusia akhirnya tercipta. Jumlah konsumsi buku menampilkan kondisi negara yang maju. Karna negara disangga basis massa unggul berdaya, melek huruf, hitung angka, mampu baca, dan berkarya sesuai disiplin ilmunya. Ketika peradaban Islam mapan waktu itu, perpustakaan sebagai penyangga melimpah ruah dengan koleksi buku literatur. Profesi pengajar, penyalin, dan penerjemah begitu diminati karna khalifah waktu itu bayarannya dengan tumpukan dirham, berbagai tunjangan dan persinggahan sebagai upah. Maka ilmu pengetahuan pun berbuah. Tapi coba kita lihat saat ini, kisah terdahulu hanyalah kenangan yang berulang...

Mendidik tidak pernah mendadak

 Ruang pendidikan tidak pernah menyekat usia, ras, agama, latar akademis, suku, dan jenis kelamin sebagai bagian dari sistem kodratinya. Kebersamaan untuk menjalin benang kesadaran merawat dan merawat kebhinnekaan seyogyanya tidak goyah oleh hasrat memajukan pendidikan. Yang pasti, mendidik tidak pernah mendadak. Harus sampai pada fase paling mendidih dan menggetarkan. Lembaga pendidikan adalah kawah candradimuka. Bukan kapal pengeruk keuntungan dalam hitungan dolar dan cuan. Bukan pula tempat penyemaian mesin paraf pengoreksian gelar serta kehormatan duniawi. Juga arogansi anti kemapanan. Pendidikan adalah jalan doa untuk memahami pangan dan papan sebagai sandangan diri yang butuh selamat dalam hidup dan kelak matinya. Terima kasih, Duhai Para leluhur kami yang ada di surga. Kami muliakan engkau di setiap jejak kaki. Berkahilah negeri yang subur ini...