Postingan

Sekolah Mencetak Budak

Dalam dunia pendidikan gelar atau embel-embel yang mengikut dibelakang nama kita merupakan sebuah pencapaian tertinggi bagi seorang yang katanya terpelajar. Tapi apakah gelar menjamin keilmuan dan kebaikan seseorang ? Tentu tidak. Karna sekolahan kita hari ini adalah sebuah tempat magang untuk kita belajar bekerja, didalamnya kita didik untuk bagaimana menjadi seorang pekerja yang handal, bukan menjadi peserta didik yang berilmu dan berakhlak. Jadi, tidak mengherankan jika banyak dari kita yang menamatkan pendidikan hingga ke jenjang perguruan tinggi tapi tidak membawa apa-apa selain gelar kesarjanaan karena memang kita hanya dicetak untuk menjadi seorang budak perusahaan atau lembaga tertentu, atau bahkan kita sampai kehilangan arah setelah sarjana. Mungkin ada beberapa orang yang mendapatkan banyak ilmu pengetahuan modern tapi apakah itu sudah cukup sebagai jaminan kita kedepannya ? Tentu tidak lagi. Karena ilmu pengetahuan sekarang bisa menjadikan manusia itu sendiri semakin buas da...

Seni Membangkang

 "Mustahil kemajuan terjadi tanpa adanya perubahan, dan mereka yang tidak mengubah pikirannya, tidak bisa mengubah apapun." (George Benhard Shaw) Senjata yang kita butuhkan saat ini adalah pembangkangan atas pandangan/dogma yang sudah begitu lazim, pandangan yang selalu meyakini bahwa apa yang diterima secara umum maka itulah kebenaran yang final. Contohnya rajin sekolah sudah pasti pintar, keyakinan seperti ini tidak pernah kita bicarakan yang akhirnya keyakinan seperti ini menjalar pada yang pintar pasti patuh: yang patuh pasti berhasil. Janji menanam kepatuhan dengan membabi buta. korbannya tidak lain seorang pelajar yang sedang membaca tulisan yang punya pandangan naif seperti itu. Lagi-lagi banyak bukti menunjukkan hal sebaliknya: Kepatuhan bukan landasan keberhasilan. Membangkanlah yang membuat semuanya jadi berubah dan membuat semua hal jadi berbeda hasilnya. Contohnya Issac Newton yang dibesarkan dalam kemiskinan dan hidup tanpa bapak. Kegemarannya bertanya dan kesang...

Filsafat Sebagai Metodologi Berfikir

Berbicara tentang filsafat mungkin saya bukan ahlinya, tapi yang saya pahami dalam belajar filsafat itu bagaimana agar kita bisa berpikir jernih. Filsafat sejatinya tidak serumit yang diceritakan oleh orang-orang. Filsafat bukanlah pembelajaran yang mengerikan bagi kita yang serius ingin belajar. Filsafat adalah suatu yang alamiah yang dialami oleh manusia sebagai makhluk yang berakal. Jika diibaratkan, filsafat itu seperti alat pencernaan yang ada dalam tubuh kita. Sebagaimana pencernaan ini membutuhkan bahan-bahan material, makanan, sayuran, dan sejenisnya untuk diolah dalam alat pencernaan, lalu menjadi darah yang dialirkan ke seluruh tubuh kita, kemudian menjadi daging. Nah, setelah melewati semua proses itu, maka kita akan menjadi makhluk yang sehat. Filsafat juga begitu, yang diawali oleh bahan-bahan material atau bahan-bahan yang akan dipikirkan, baik itu berupa berita COVID-19, informas kematian, temuan penalar virus corona dari suatu eksperimen. Kemudian bahan itulah yang kemu...

Apa itu filsafat ?

Jika kita ingin mendefinisikan filsafat bukanlah sesuatu yang mudah dan bukan sesuatu yang pasti, bahkan hampir setiap filosof itu memiliki caranya sendiri dalam mendefinisikan filsafat. Biasanya buku-buku filsafat itu selalu mengoleksi beberapa defenisi filsafat yang dijelaskan oleh beberapa pemikir. Tetapi ada defenisi yang cukup menarik. Pertama, definisi filsafat yang dikemukakan oleh Deleuze Gauttari dalam buku "What is Filosofi", silahkan dicari bukunya. Dia bilang bahwa filsafat itu merupakan rangkaian konsep, kemudian disusun/dirangkai menjadi satu kesatuan yang lebih utuh. Contoh sederhananya, saat kita punya pemahaman tentang burung, maka sebenarnya konsep kita tentang burung bukanlah konsep tunggal, tetapi konsep yang disusun dari beberapa konsep-konsep yang lain. Misalnya, konsep burung ini tersusun dari konsep warna, konsep sayap, bahkan burung itu juga terkonsep dari kata terbang. Jadi kita bisa menyatakan dengan sempurna itu burung seutuhnya, setelah konsep itu...

Saya dan Seorang Penari

Dalam sebuah kelas, seorang guru mengajak murid-muridnya berdiskusi, dia bertanya kepada muridnya: Kalian siapa ?, serentak murid-muridnya menjawab sesuai dengan namanya masing-masing. Gurunya kembali bertanya: Bukankah itu hanya sebuah nama "Namaku", kata "ku" setelah namamu itu siapa ?. Murid-muridnya, kembali menjawab, kali ini mereka menjawabnya dengan jawaban yang berbeda-beda. Ada yang menjawab aku adalah seluruh badan, aku adalah jiwa, aku adalah pikiran, aku adalah hari, dan lain-lain. Gurunya kembali bertanya dengan pertanyaan yang semakin membingungkan, "itu semua kan hanyalah kepunyaan (tubuhku, jiwaku, pikiranku, hatiku, dan lain-lain), Akunya itu yang mana ?, yang memiliki semua yang kamu sebutkan tadi. Suasana kelaspun menjadi hening, seluruh muridnya masih kebingungan memikirkan dirinya sendiri. Sepulang dari tempat belajarnya itu, salah seorang murid mencoba menghibur dan menenangkan pikirannya dengan mengunjungi beberapa tempat seperti pantai, ...

Perenungan

 Terkadang apa yang diharapkan tidak selaras dengan apa yang telah direncanakan oleh sang penguasa takdir. Kebenaran darinya selalu saja mempertentangkan segala perkara yang telah kualami, membuat kepalaku dipenuhi oleh sabda-sabda liar. Seolah-olah kebahagiaan telah mati suri dan jasadnya entah berada dimana, dan kesedihan selalu saja menemukan zona nyamannya. Mungkin saja ia menginginkan lebih banyak kerendahan hati dan kesediaan diri untuk menurunkan keegoisan bahwa hidup tidak selamanya berjalan mulus sesuai apa yang diharapkan.  Seorang nahkoda tidak akan mampu mengubah arah mata angin, dia hanya bisa mengendalikan kapalnya untuk tetap aman dan berjalan di jalur yang semestinya dia lewati. Yah itu benar, Tuhan memiliki selera humornya sendiri yang dapat membolak-balikkan tatanan hidup. Kini, yang ku miliki hanya ribuan ingatan yang tersusun rapi dalam perpustakaan pikiranku yang sewaktu-waktu dapat saya gunakan untuk meyakinkan diri bahwa untuk memperoleh kearifan tentuny...

Keraguan

 Apakah karena kurawat keraguan, maka saya tidak bisa percaya apapun? Percaya hanyalah tidak adanya ragu. Jika keraguan hilang, maka rasa percaya akan muncul. Lalu kucoba mengamati saat menekan-nekan suatu keyakinan dalam diriku, sebenarnya hatiku tengah dilanda keraguan. keraguan bukan berarti penolakan, mungkin seperti "saya tidak tahu", tapi "saya siap untuk tahu". Keraguan ini membuatku mencari jawaban dari banyak pintu, dan semua pintu terasa seperti menyodorkan jawaban-jawaban yang saling melengkapi, meski caranya berbeda-beda, kadang lembut, kadang kejam, kadang penuh teka-teki, kadang jelas, tapi yang jelas setiap pintu bersepakat mengantarkan jawaban atas setiap pertanyaan. Dan keraguan ini yang membawaku mengembara menjelajahi setiap pintu untuk mencari jalanku sendiri. Nasehat orang bijaksana: "Kalau jalan sudah tertata, mungkin saja orang lain sudah menyiapkannya. Maka kamu jangan lewati jalan itu, karena itu bukan jalanmu. Carilah jalan yang masih ...